Selasa, 27 September 2011

Tertawa...Obat Mujarab Penghilang Rasa Sakit Berharga Murah

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Ingin terbebas dari rasa sakit? Tertawalah bersama rekan-rekan Anda. Tawa yang tulus dan spontan menghasilkan zat kimia serupa opium yang akan membajiri otak sehingga mampu mereduksi rasa sakit, demikian hasil penelitian di Inggris.
Dalam penelitian itu, sejumlah responden diminta menonton dua tayangan televisi yang bertolak belakang, yaitu acara humor mulai dari Mr bean hingga miniseri Friends. Yang lain menonton acara 'serius' macam golf dan program kehidupan di alam liar.
Tes lainnya dilakukan atas responden lain di  Edinburgh Fringe Festival, dimana mereka menonton acara komedi secara langsung atau drama teatrikal.
Pada saat yang sama, mereka diukur tingkat resistensinya terhadap rasa sakit.
Hanya dalam 15 menit, mereka yang tertawa mampu mentoleransi rasa sakit hingga 10 persen dibandingkan mereka yang tak tertawa. "Mereka yang tertawa sekitar tiga kali atau lebih menunjukkan toleransi yang tinggi pada rasa sakit," kata Robin Dunbar, pimpinan the Institute of Social and Cultural Anthropology pada University of Oxford yang memimpin penelitian.
Proteksi atas rasa sakit datang dari endorfin, suatu senyawa kimia yang kompleks yang membantu mengirimkan pesan antar neuron, yang menumpulkan sinyal sakit secara fisik dan psikologik. Endorfin yang dihasilkan saat tertawa juga bisa dihasilkan saat fisik melakukan olahraga seperti berlari, berenang, dan yoga.

http://id.berita.yahoo.com/tertawa-obat-mujarab-penghilang-rasa-sakit-berharga-murah-085844084.html

Kamis, 22 September 2011

Perkembangan BK di Amerika & Indonesia

Layanan bimbingan di Amerika Serikat mulai diberikan oleh Jesse B. Davis pada sekitar tahun 1898-1907. Beliau bekerja sebagai konselor sekolah menengah di Detroit. Dalam waktu sepuluh tahun, ia membantu mengatasi masalah-masalah pendidikan, moral, dan jabatan siswa. Pada tahun 1908, Frank Parsons mendirikan Vocational Bureau untuk membantu para remaja memilih pekerjaan yang cocok bagi mereka. Tahun 1910, William Healy mendirikan Juvenile Psychopathic Institut di Chicago. Tahun 1911, Universitas Harvard memberikan kuliah bidang bimbingan jabatan dengan dosennya Meyer Blomfield. Tahun 1912, Grand Rapids, Michigan mendirikan lembaga bimbingan dalam sistem sekolahnya.
Tahun 1913 berdiri National Vocational Guidance di Grand Rapids.
Perkembangan bimbingan dan konseling di Amerika Serikat sangat pesat pada awal tahun 1950. Hal ini ditandai dengan berdirinya APGA (American Personal and Guidance Association) pada tahun 1952. Selanjutnya, pada bulan Juli 1983 APGA mengubah namnya menjadi AACD (American Association for Counseling and Development). Kemudian, satu organisasi lainnya bergabung pula dengan AACD, yaitu Militery Education (MECA). Dengan demikian, pada saat ini AACD merupakan organisasi profesional bagi para konselor di Amerika Serikat, dengan 14 divisi (organisasi khusus) yang tergabung di dalmnya. Di samping itu, pada setiap negara bagian atau wilayah tertentu terdapat semacam cabang dari masing-masing organisasi tersebut.
Sebagai suatu organisasi profesi, AACD ataupun organisasi-organisasi divisinya mengeluarkan jurnal-jurnal secara berkala. Jurnal-jurnal tersebut di antarnya (1) Journal of Counseling and Development; (2) Journal of College Student Personnel; (3) Counselor Education and Supervision; dan (4) The Career Development Quarterly.

Sejarah perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia lebih banyak dilakukan dalam kegiatan pendidikan formal di sekolah. Pada awal tahun 1960 di beberapa sekolah dilaksanakan program bimbingan yang terbatas pada bimbingan akademis. Pada tahun 1964, lahir Kurikiulum SMA Gaya Baru, dengan keharusan melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan. Tetapi, program ini tidak berkembang karena kurang persiapan prasyarat, terutama kurangnya tenaga pembimbing yang profesional. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pada dasawarsa 60-an Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan diteruskan oleh Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1963) membuka Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan yang sekarang dikenal di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan nama Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB).
Setelah dirintis dalam dekade 60-an, bimbingan dicoba penataannya dalam dekade 70-an. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) membawa harapan baru pada pelaksanaan bimbingan di sekolah karena staf bimbingan memegang peranan penting dalam sistem sekolah pembangunan. Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975 yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah. Pada tahun 1975 berdiri ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang. IPBI ini memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.
Setelah melalui penataan, dalam dekade 80-an, bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk mewujudkan layanan bimbingan yang profesional. Upaya-upaya dalam dekade ini lebih mengarah pada profesionalitas yang lebih mantap. Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini adalah penyempurnaan kurikulum dari Kurikulum 1975 ke Kurikulum 1984. Dalam kurikulum 1984, telah dimasukkan bimbingan karier di dalmnya. Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya pada masa yang akan datang.
Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam Pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya, pada tahun 2001 terjadi perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Pemunculan nama ini dilandasi terutama oleh pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan publik.
Sumber: Buku Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, Refika Aditama

http://iptekdakhlan.blogspot.com/2011/04/sejarah-perkembangan-bimbingan-dan.html

Perkembangan BK di Amerika

Program bimbingan di amerika pada mulannya merupakan bagian dari gerakan moral. Sekolah mengembangkan program bimbingan untuk membantu pesertadidik agar memiliki pemahaman yang lebih baik tentangkeadaan dirinya dan berkembang menjadi orang atau pekerja yang bertanggung jawab. Pada masa abad ke-20 belum ada konselor di sekolah, semua perkerjaan konselor masih ditangani oleh guru seperti dalam memberikan layanan informasi, layanan bimbingan pribadi, social, belajar dan karir. Berdasarkan keaneragaman para siswa yang masuk pada sekolah-sekolah negeri dan sebagai dampak revolusi maka gerakan bimbingan di sekolah mulai berkembang. Jasse B. Davis mulai memberikan layanan konseling pendidikan di SMA pada tahun 1898. Dan pada tahun 1907 dia di angkat menjadi kepala SMA di Grand Rapids, Michigan. Tujuan dari program bimbingan yang dia buat adalah membantu siswa agar mampu (a) mengembangkan karakternya yang baik (memiliki nilai mural, ambisi, bekerja keras, dan kejujuran) sebagai aset yang sangat penting bagi setiap siswa (orang) dalam rangka merencanakan, mempersiapkan dan memasuki dunia kerja (bisnis). (b) mencegah dirinya dari prilaku bermasalah, dan (c) menghubungkan minat pekerjaan dengan kurikulum (mata pelajaran).
Pada waktu yang sama para ahli juga mengembangkan program bimbingan seperti
a. Eli Weaper
Pada tahun 1906 dia telah menerbitkan bookletnya tentang memilih suatu karir, dia telah berhasil membentuk komite guru pembimbing di setiap sekolah yang semuanya aktif membantu para pemuda atau remaja untuk menemukan kemampuan-kemanpuannya dan belajar bagaimana menggunakan atau mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja atau pegawai yang produktif.
b. Frank Parson
Frank Parson ini di kenal sebagai “father of the Guidance Movement in American Education” yang mendirikan biro pekerjaan pada tahun 1908 di Boston, Masschussets, yang bertujuan untuk membantu pemuda untuk memilih karir yang didasarkan atas proses seleksi secara ilmiah dan melatih para guru untuk memberikan pelayanan sebagai konselor vokasional. Menurut Parson konselor vokasional harus memiliki (a) pemahaman kerja praktis dan prinsip-prinsip pokok psikologi modern, (b) pengalaman bergaul dengan orang lain, pemahaman tentang motif, minat, dan ambisi yang mengontrol kehidupan manusia, dan pemahaman tentang faktor-faktor yang memepengaruhi karakter, (c) kemampuan untuk berinteraksi dengan para remaja (kaum muda) dengan cara yang menarik, bersifat menolng, simpatik, serius, dan terbuka, (d) pemahaman tentang persyaratan dan kondisi berbagai dunia kerja (industry), (e) informasi tentang pendidikan yang cocok untuk mempersiapkan suatu pekerjaan, dan (f) Pemahaman tentang metode ilmiah dan prinsip-prinsip penelitian dalam upaya memperoleh kesimpulan atau keputusan yang benar.
c. E.G. Williamson
Model bimbingan di sekolah yang di kembangkan oleh Williamson terkenal dengan nama trait and factor (directive) guidance. Dalam model ini para konselor mengunakan informasi untuk membantu siswa dalam memecahkan masalahnya, khusuny dalam bidang pekerjaan dan penyesuaian interpersonal. Peranan konselor bersifat directive dengan menekankan kepada (a) mengajar ketrampilan, dan (b) membentuk (mengubah) sikap dan tingkah laku.
d. Carl R. Rogers
Rogers mengemukakan teori konseling client-centered, yang tidak terfokus kepada masalah, tetapi sangat mementingkan hubungan antara konselor dengan klienny. Pendekatan atau teori konseling Rogers ini terangkum dalam dua bukunya yaitu Counseling and Psychotherapy (1942), dan Clint-Centered therapy (1951). pada buku yang pertama dikenalkan tentang pendekatan konseling non direktif sebagai alternative layanan di samping pendekatan direktif. Rogers berpendapat bahwa klien bertanggung jawab dalam memecahkan masalah dan mengembangkan dirinya sendiri. Dalam dalam buku kedua terjadi perubahan semantic dari konseling non direktif menjadi konseling Client-Centered.
Pada september 1958 terjadi peristiwa penting dalam dunia pendidikan di Amerika termasuk gerakan bimbingan dan konseling hal itu di tengarai karena terjadinya peluncuran Sputnik I Uni Soviet pada tahun 1950, dan masyarakat Amerika berfikir bahwa Uni Soviet akan mendominasi dalam teknologi industri dan bidang ilmiah lainnya. sehingganya pada tahun 1958 kongres menyusun undanag-undang, termasuk undang-undang pertahanan pendidikan pertahanan nasional yang isinya memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk mengucurkan dana bagi pendidikan seperti untuk pelatihan para konselor SLTP dan SLTA, dan pengembangan program testing, program konseling sekolah, dan program bimbingan lainya. Selama tahun 1960 – 1980-an telah terjadi perkembangan dalam peran dan fungsi konselor sekolah berikut program-programnya. Perkembangan tersebut meliputi : (a) pengembangan, penerapan, dan evaluasi program bimbingan koperhensif. (b) pemberian layanan konseling secara langsung kepada para siswa, orang tua dan guru, (c) perencanaan pendidikan dan pekerjaan, (d) penempatan siswa, (e) layanan “referal” rujukan, dan (f) konsultasi dengan guru-guru, tenaga administrasi dan orang tua. Khusus menyangkut peran konselor di sekolah dasar “Joint Committee on elementari School Counselor” mengklarifikasaikan menjadi tiga peran (fungsi) yaitu konseling, konsultasi dan koordinasi. Pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah di pengaruhi juga oleh munculnya berbagai organisasi professional dalam bidang konseling seperti : (a) Amerikan Counseling Association (ACA), (b) Amerikan School Counselor Association (ASCA), dan (c) Association of Counselor Education and Supervision (ACES). Semua organiasai yang ada berupaya meningkatkan profesionalitas para konselor, dengan meluncurkan program akreditasi dan sertifikasi. Bradley ( John J. Pietrofesa et.al., 1980) menambahakan satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut stiller yaitu sebagai berikut :
1. Vocational Exploration
Yaitu tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja. Tahapan ini mencoba menjodohkan manusia dengan pekerjaan.
2. Meeting Individual Needs
Yaitu tahapan pada periode 40 s.d. 50-an yang menekankan kepada upaya membantu individu agar memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Pada tahapan ini di pengaruhi oleh pendat maslow dan rogers, yaitu bahwa manusia memeiliki kemampuan untuk mengembanagkan diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
3. Transisional profesionalism
Yaitu tahapan yang memfokuskan perhatiannya kepada upaya profesionalisasi konselor.
4. Situational Diagnosis
Yaitu tahapan yang terjadi pada tahun 1970-an, sebagai periode perubahan dan inovasi. Pada tahapan ini ada penekanan yang lebih kepada analisis lingkungan dalam proses bimbingan, dan gerakan untuk menjauhi cara-cara terapeutik yang hanya terpusat kepada diri individu.
Lima gerakan bimbingan dalam pendidikan oleh kowitz dan kowitz (1971 dalam john J Pietrofesa et.al., 1980). Pertama, gerakan penyesuain hidup dengan memperhatikan persiapan vokasional, keragaman individual, dan kurikulum. Kedua, gerakan perkembangan anak pada tahun 1920-an yang di pengaruhi oleh pertimbangan teori psikoanalitik. Ketiga, gerakan yang melibatkan guru-konselor. Keempat, gerkan proyek atau program khusus yang menekankan tentang filsafat aktivisme sosial (philosophy ofsocial ativism). Kelima, gerakan yang manaru perhatian terhadap redefenisi tujuan bimbingan dan prinsip-prinsip ilmiah bimbingan.
Lebih kanjut John J. Pietrofesa et. Al (1980) mendiskripsikan tonggak-tonggak sejarah bimbingan modern, yaitu sebagai berikut :
Tonggak-tonggak Sejarah Bimbingan Modern
TAHUN PERISTIWA
1879 Laboratorium pertama di abangun oleh Wilhelm Wundt di Jerman
1883 G.Stanley Hall berinisiatif melakukan studi tentang anak di laboratorium psikologi di Uneversitas John Hopkins
1890 Sigmun freud menggunkan psikoaanalisis untuk mengobati penyakit mental
1895 George Meril mengembangkan program bimbingan vokasional pertama di San Frascisco
1898 Jesse B. Devis mulai bekerja sebagai seorang konselor pada sekolah menengah atas di Detroit
1905 Albert Binet dan Theopile Simon menyusun dan mentandardisasikan tes kecerdasan umum peserta di Paris
1906 Eli W. Weaverseorang kepalA sekolah di Brooklyn menulis buku “Choosing a Career”
1908 Frank Parson Mendirikan Biro Vokasional di Boston, dan menulis buku “Choosing a Vokasional”
1909 Clifford Beer menulis “A Mind That Found Itself”, sebagai factor utama yang mempengaruhi lahirnya gerakan mental Hygiene
1910 Konverensi bimbingan Vokasional nasional pertama di selenggarakan di Boston
1913 Asosiasi Bimbingan Vokasioanl didirikan di Grand Rapiids Michigan
1917 The Smith-Hughes Act memberikan dana federal pertama untuk mebiayai program bimbingan vokasional
1917 Tes kemampuan mental kelompok verbal dan non verbal dikembangkan oleh angkatan bersenjata yang digunakan dalam melakukan screening calon tentara
1927 The Strong Vocational Interest Blank dipublikasikan
1929 The George-Reed Act memberikan dukungan federal untuk pendidikan vokasional
1932 John Brewer memplikasikan buku “Education as Guidance”
1934 The George-Ellzy Act melanjutkan pemberian dukungan dana federal untuk pendidikan vokasional
1935 The Works Progress Administration didirikan untuk memberikan layanan konseling dan penembapatan bagi para generasi muda
1936 The George-Deen Act melanjutkan pemberian dana untuk pendidikan vokasional
1937 The American Association for Aplied Psykologi didirikan
1938 The U.s. Office Educatione memberikan informasi pekerjaan
1939 E.G. Williamson mendeskripsikan pendekatan “Trait and Factor” konseling dalam bukunya “How to Counsel Students”
1942 Carl Rogers mempublikasikan “Conunseling and Psychotherpy” dan mulai melakukan gerakan konseling ke arah “Client Centered Therapy”
1945 The U.S. Employment Office mengembangkan “General Aptitude Test Battery)
1951 The American Personnel and Guidance Association (APGA) didirikan
1952 The American School Counselor Association didirikan, dan menjadi salah satu devisa APGA pada tahun 1953
1953 B.F. Skinner menulis “Science and human Behavor”
1954 The Office of Vocational Rehabilitation didirikan
1957 APGA menyusun the American Board of Profesional Standards dalam bimbingan vokasional
1957 Donald Super mempublikasikan “The Psychology or Career” yang mempunyai pengaruh besar terhadap gerakan perkembangan karir pada tahun-tahun berikutnya
1958 The National Defence Education Act memberikan dana untuk kegiatan pelatihan para konselor sekolah
1961 The Association for Supervision ang curriculum Development mempublikasikan “Perceiving, Behaving, Becoming” dengan mendapat kontribusi pemikiran dari Carl Rogers, Earl Kelly, Art Combs, dan A.H. Maslow
1962 C. Gilbert Wrenn menulis “The Counselor in a Changing Worid”
1963 The Manpower Development and Taining and The Vocational Education Ects telah dilakukan
1964 Amended NDEA melanjutkan pemberian dana bagi pelatihan konselor
1971 Commisioner of Education Sidney Marland menekankan tentang pentingnya perencanaan dan pendidikan karir
1976 Unit Administrasi untuk bimbingan dan konseling telah didirikan di US Office of Education
1978 The State or Virginia memeberikan izin praktek kepada konselor
Arthur E. Traxler dan Robert D.North (1986) juga menyebutkan beberapa kejadian penting yang mewarnai sejarah bimbingan di Amerika diantaranya :
1. Pada akhir adab ke-19 dan awal abad ke-20, timbulah suatu gerakan kemanuasian, yang menitik beratkan pada kesejahteraan manusia dan kondisi social.
2. Agama, para rohaniawan berpandangan bahwa dunia adalah dimana terdapat pertentangan yang secara terus-menerus antara baik dan buruk.
3. Timbul dengan tujuan perlakuan yang manusiawi terhadap penderita penyakit jiwa dan perhatian terhadap berbagai gejala, tingkat penyakit jiwa, pengobatan, dan pencegahannya, karna ada suatu kesadaran bahwa penyakit ini bisa diobati apabila ditemukan pada tingkat yang lebih dini. Gerakan ini mendorong para pendidik untuk lebih peka terhadap masalah-masalah gangguan kejiwaan, rasa tidak aman, dan kehilangan identitas diantra anak-anak muda.
4. Perubahan dalam Masyarakat, akibat dari perang dunia I dan II, pengangguran, despresi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, wajib belajar dll.mendorong beribu-ribu anak untuk masuk sekolah, tanpa menegetahui untuk apa mereka bersekolah.
5. Gerakan mengenal siswa sebagai individu, gerakan ini erat sekali kaitannya dengan gerakan tes dan pengukuran.

http://abdillahhusni.wordpress.com/2011/03/15/perkembangan-layanan-bimbingan-dan-konseling-di-amerika/

3 Kata Sederhana

Tiga kata sederhana yang memilki energi besar: maaf, tolong & terimakasih..
"Sudahkah kita meminta maaf kepada ibu dan ayah ketika mereka menyuruhmu melakukan sesuatu dan engkau 'tak menurutinya?"......
"Apakah kita berkata tolong ketika meminta sesuatu kepada adik, anak atau siapapun yang lebih muda dari kita?"
"Apakah kita sudah mengucapkan terimakasih ketika mendapatkan kiriman uang jajan dari orang tua, kepada pembantu kita, atau siapapun yang telah menolong kita? Atau bahkan berterima kasih kepada orang yang telah menyakiti kita? Karena jika kita tidak pernah diberi rasa sakit, kita 'tak akan tahu nikmatnya sehat dan bahagia"....

from: my sister....(Ni_nink ....

Belajar Gestal


Sudahkan proses pembelajaran yang guru lakukan di sekolah berhasil secara optimal? Pertanyaan ini seyogyanya dapat dijawab sendiri oleh masing-masing individu guru tersebut. Keberhasilan belajar tentunya dapat dilihat pada berbagai indikator penentu. Misalnya saja dari perolehan nilai laporan hasil belajar, perkembangan sikap serta motivasi siswa untuk melaksanakan proses belajar secara mandiri dan berkelanjutan demi pengembangan bakat dan minatnya.
Adakalanya, mungkin guru mengeluh ketika para siswanya belum memperoleh nilai yang bagus. Suatu hasil yang menyedihkan mungkin ketika proses pembelajaran telah dilaksanakan, namun siswa masih menampilkan sikap yang kurang mendukung terhadap keberhasilan belajar. Hal tersebut tentunya bukanlah semata-mata sebagai akibat kelemahan siswa dan juga bukan serta-merta akibat “ketidakefektifan” guru dalam mengajar.
Beberapa orang ahli telah memaparkan dengan berbagai redaksi bahasa kepada dunia pendidikan tentang metoda, prinsip dan teori belajar yang efektif. Dua orang ahli berkebangsaan Jerman, yakni Koffka dan Kohler mengemukakan bahwa setidaknya ada delapan prinsip belajar yang dapat dijadikan pedoman bagi pendidik dalam menggapai proses belajar yang lebih sukses. Kedelapan prinsip ini lebih popular kita kenal dengan teori belajar Gestalt, yaitu:
1.      Belajar berdasarkan keseluruhan,
2.      Belajar adalah suatu proses perkembangan
3.      Siswa sebagai organism keseluruhan
4.      Terjadi transfer
5.      Belajar adalah reorganisasi pengalaman
6.      Belajar harus dengan insight
7.      Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan mina, keinginan dan tujuan siswa
8.      Belajar berlangsung terus-menerus

Rabu, 21 September 2011

Filsafat Ilmu


http://aljawad.tripod.com/artikel/filsafat_ilmu.ht
Teori Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali " keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.
Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek.
Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah).
Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti, Mutahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya.
Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.
Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.
Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai.
Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi.
Mungkinkah Manusia itu Mempunyai Pengetahuan ?
Masalah epistemologis yang sejak dahulu dan juga sekarang menjadi bahan kajian adalah, apakah berpengetahuan itu mungkin ? Apakah dunia (baca: realita) bisa diketahui ? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Tetapi terdapat beberapa orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan. Misalnya, bapak kaum sophis, Georgias, pernah dikutip darinya sebuah ungkapan berikut, "Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan."
Mereka mempunyai beberapa alasan yang cukup kuat ketika berpendapat bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak ada atau tidak dapat dipercaya. Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa. Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.
Pyrrho ketika berdalil bahwa pengetahuan tidak mungkin karena kasalahan-kesalahan yang indra dan akal, sebenarnya, ia telah mengetahui (baca: meyakini) bahwa pengetahuan tidak mungkin. Dan itu merupakan pengetahuan. Itu pertama. Kedua, ketika ia mengatakan bahwa indra dan akal seringkali bersalah, atau katakan, selalu bersalah, berarti ia mengetahui bahwa indra dan akal itu salah. Dan itu adalah pengetahuan juga.
Alasan yang dikemukakan oleh Pyrrho tidak sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak mungkin. Alasan itu hanya dapat membuktikan bahwa ada kesalahan dalam akal dan indra tetapi tidak semua pengetahuan lewat keduanya salah. Oleh karen itu mesti ada cara agar akal dan indra tidak bersalah.
Menurut Ibnu Sina, ada cara lain yang lebih efektif untuk menghadapi mereka, yaitu pukullah mereka. Kalau dia merasakan kesakitan berarti mereka mengetahui adanya sakit (akhir dawa' kay).
" Cogito, ergosum "-nya Descartes.
Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah " Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada ".
Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada.
Keraguan al Ghazzali.
Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah " Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang ke keyakinan ".
Sumber Dana Alat Pengetahuan.
Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empiris- dan pasti mempunyai sebab atau sumber. Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan sumber-sumber itu, maka dia menggunakan alat.
Para filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu :
  1. Alam tabi'at atau alam fisik
  2. Alam Akal
  3. Analogi ( Tamtsil)
  4. Hati dan Ilham
1. Alam tabi'at atau alam fisik
Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali" paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi'at.
Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi'at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (badihiyyat). Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (al ma'lum) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pandangan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam.
Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin).
Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.
2. Alam Akal
Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada.
Aktivitas-aktiviras Akal
  1. Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.
  2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza'. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi.
  3. Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam).
  4. Pemilahan dan Penguraian.
  5. Penggabungan dan Penyusunan.
  6. Kreativitas.
3. Analogi (Tamtsil)
Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu.
Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal.
Analogi dibagi dua;
  1. Analogi interpretatif : Ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya, namun tidak diketahui illatnya atau sebab penetapannya.
  2. Analogi Yang Dijelaskan illatnya : Kasus yang sudah jelas hukum dan illatnya.
4. Hati dan Ilham
Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.
Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.
Bagaimana mengetahui lewat hati ?
Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini- adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya "
Kemudian beliau melanjutkan, "Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (qudsi) Lahut ." (al-Asfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25).
Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhnya para 'arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364)
Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif berbicara -lebih dulu- tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at."
Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu.
Islam dan Sumber-sumber Pengetahuan
Dalam teks-teks Islam -Qur'an dan Sunnah- dijelaskan tentang sumber dan alat pengetahuan:
  1. Indra dan akal
  2. Allah swt. berfirman, "Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia meciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati ( atau akal) agar kalian bersyukur ". (QS. al-Nahl: 78).
    Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetapi juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur'an Allah swt. berfirman, "Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di bumi." (QS. Yunus: 101 ). Dan ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjuran untuk bertafakkur. Qur'an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pendekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, "Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur." (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dalam logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis.
    Atau ayat lain yang berbunyi, "Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang diperebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?" (QS. al-Zumar: 29)
  3. Hati
Allah swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon." (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Atau ayat yang berbunyi, "Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat yang lainnya.
Syarat dan Penghalang Pengetahuan.
Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya.
Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu :
  1. Konsentrasi
  2. Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya.
  3. Akal yang sehat
  4. Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar.
  5. Indra yang sehat
Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya.
Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan daat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan sayr dan suluk. Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan kesempurnaanNya.
Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.
Wal hamdulillah awwalan wa akhiran.
(Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah  Filsafat Islam  di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad)

Selasa, 20 September 2011

Sejarah T.I.

Pada awal sejarah, manusia bertukar informasi melalui bahasa. Maka bahasa adalah teknologi, bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain tetapi itu tidak bertahan secara lama karena Setelah ucapan itu selesai, maka informasi yang berada di tangan si penerima itu akan dilupakan dan tidak bisa disimpan lama. Selain itu jangkauan suara juga terbatas.
Setelah itu teknologi penyampaian informasi berkembang melalui gambar. Dengan gambar jangkauan informasi bisa lebih jauh. Gambar ini bisa dibawa-bawa dan disampaikan kepada orang lain. Selain itu informasi yang ada akan bertahan lebih lama. Beberapa gambar peninggalan zaman purba masih ada sampai sekarang sehingga manusia sekarang dapat (mencoba) memahami informasi yang ingin disampaikan pembuatnya.
Ditemukannya alfabet dan angka arabik memudahkan cara penyampaian informasi yang lebih efisien dari cara yang sebelumnya. Suatu gambar yang mewakili suatu peristiwa dibuat dengan kombinasi alfabet, atau dengan penulisan angka, seperti MCMXLIII diganti dengan 1943. Teknologi dengan alfabet ini memudahkan dalam penulisan informasi itu.
Kemudian, teknologi percetakan memungkinkan pengiriman informasi lebih cepat lagi. Teknologi elektronik seperti radio, televisi, komputer mengakibatkan informasi menjadi lebih cepat tersebar di area yang lebih luas dan lebih lama tersimpan
http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_informasi

Finlandia Memandang Agama

SEBUAH studi di Finlandia menemukan bahwa masyarakat Finlandia semakin negatif dalam memandang Islam, sementara Kekristenan tetap menjadi yang terbaik. Meski demikian, mayoritas masyarakat Finlandia menyatakan siap menyambut agama-agama lain dalam keluarga mereka. 
Hindu dan Buddhisme menjadi agama yang dipandang positif oleh sebagian besar responden. Sementara, Islam menjadi agama yang paling dikritisi.
Hanya enam persen responden yang memberikan penilaian positif atas Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Kimmo Ketola, peneliti dari Church Research Institute. Menurut Ketola, pandangan negatif atas Islam kemungkinan dipengaruhi oleh bagaimana media setempat menggambarkan Islam.
Ketola mengatakan bahwa Finlandia merupakan negara Eropa dengan jumlah imigran Muslim paling sedikit. Media-media massa Finlandia cenderung menggambarkan Islam secara kasar dan negatif.
Sikap terbuka masyarakat Finlandia terhadap agama-agama lain cenderung mengalami peningkatan selama beberapa dekade terakhir. Tapi, sikap itu tidak berlaku untuk Islam. Penolakan terhadap Islam justru meningkat di era 2000-an.
Ketika masyarakat Finlandia ditanya apakah mereka siap menerima agama-agama lain ke dalam keluarga mereka atau sebagai perwakilan di partai mereka, sebagian besar menyatakan siap. Bahkan, hanya empat persen yang menentang ide pernikahan beda agama.
Selama ini, masyarakat Finlandia cukup kuat memegang teguh keyakinannya. Empat dari lima warga Finlandia cenderung bersikap intoleran terhadap agama lain, sedangkan tiga dari lima warga Finlandia menganggap agama cenderung membawa konflik daripada perdamaian.
Mayoritas warga Finlandia merupakan anggota Gereja Lutheran Injili. Delapan persen warga Finlandia menganggap diri mereka cukup religius. Seperlima warganya percaya pada TUHAN tanpa adanya keraguan. Sementara, sepuluh persen menyatakan tidak percaya pada TUHAN.
Studi ini dipublikasikan oleh Finnish Social Science Data Archieve dan dilaksanakan oleh Church Research Institute. Jumlah responden mencapai 50.000 responden berasal dari 34 negara bagian. []

Pendidikan di Finlandia

Tahukah anda semua negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Bukan Amerika dengan Harvard-nya, bukan Jerman atau Perancis, atau juga Indonesia dengan ITB-nya…Negara itu adalah FINLANDIA ! Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa.
Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi No. 1 di pentas dunia?
Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.
Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke Fakultas Hukum bahkan Fakultas Kedokteran!
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
Pada usia 18 tahun seorang siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi, dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
“Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri”, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, pada sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki.
Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dan lain sebagainya. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.
Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.
Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
Sangat berbeda sekali dengan halnya yang tejadi di indonesia. Guru kurang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Gaji nya pun sangat kecil dan tidak layak jika di bandingkan dengan pengorbanan sebagai Guru.Yang Kedua, di Indonesia siswa yang berbakat dan berprestasi di luar negeri kurang mendapatkan respek dan antusias dari pemerintah. Pemerintah malah terkesan mengayomi anggota DPR yang jelas2 tidak jelas pekerjaan nya dan cuma bisa menghambur-hamburkan duit negara saja..
Hargailah Guru dan Siswa yang berbakat di Indonesia Wahai pemerintah!!
sumber: http://kangmartho.com

The Practice of Internet Counseling

National Board for Certified Counselors, Inc.
and
Center for Credentialing and Education, Inc.
3 Terrace Way, Suite D
Greensboro, NC 27403
This document contains a statement of principles for guiding the evolving practice of Internet
counseling. In order to provide a context for these principles, the following definition of Internet
counseling, which is one element of technology-assisted distance counseling, is provided. The
Internet counseling standards follow the definitions presented below.
A Taxonomy for Defining Face-To-Face and Technology-Assisted Distance
Counseling
The delivery of technology-assisted distance counseling continues to grow and evolve.
Technology assistance in the form of computer-assisted assessment, computer-assisted
information systems, and telephone counseling has been available and widely used for some time.
The rapid development and use of the Internet to deliver information and foster communication
has resulted in the creation of new forms of counseling. Developments have occurred so rapidly
that it is difficult to communicate a common understanding of these new forms of counseling
practice.
The purpose of this document is to create standard definitions of technology-assisted distance
counseling that can be easily updated in response to evolutions in technology and practice. A
definition of traditional face-to-face counseling is also presented to show similarities and
differences with respect to various applications of technology in counseling. A taxonomy of
forms of counseling is also presented to further clarify how technology relates to counseling
practice.
Nature of Counseling
Counseling is the application of mental health, psychological, or human development principles,
through cognitive, affective, behavioral or systemic intervention strategies, that address wellness,
personal growth, or career development, as well as pathology.
Depending on the needs of the client and the availability of services, counseling may range from
a few brief interactions in a short period of time, to numerous interactions over an extended
period of time. Brief interventions, such as classroom discussions, workshop presentations, or
assistance in using assessment, information, or instructional resources, may be sufficient to meet
individual needs. Or, these brief interventions may lead to longer-term counseling interventions
for individuals with more substantial needs. Counseling may be delivered by a single counselor,
two counselors working collaboratively, or a single counselor with brief assistance from another
counselor who has specialized expertise that is needed by the client.
Forms of Counseling
Counseling can be delivered in a variety of forms that share the definition presented above. Forms
of counseling differ with respect to participants, delivery location, communication medium, and
interaction process. Counseling participants can be individuals, couples, or groups. The
location for counseling delivery can be face-to-face or at a distance with the assistance of
technology. The communication medium for counseling can be what is read from text, what is
heard from audio, or what is seen and heard in person or from video. The interaction process for
counseling can be synchronous or asynchronous. Synchronous interaction occurs with little or
no gap in time between the responses of the counselor and the client. Asynchronous interaction
occurs with a gap in time between the responses of the counselor and the client.
The selection of a specific form of counseling is based on the needs and preferences of the client
within the range of services available. Distance counseling supplements face-to-face counseling
by providing increased access to counseling on the basis of necessity or convenience. Barriers,
such as being a long distance from counseling services, geographic separation of a couple, or
limited physical mobility as a result of having a disability, can make it necessary to provide
counseling at a distance. Options, such as scheduling counseling sessions outside of traditional
service delivery hours or delivering counseling services at a place of residence or employment,
can make it more convenient to provide counseling at a distance.
A Taxonomy of Forms of Counseling Practice. Table 1 presents a taxonomy of currently
available forms of counseling practice. This schema is intended to show the relationships among
counseling forms.
Table 1 - A Taxonomy of Face-To-Face and Technology-Assisted Distance Counseling
Counseling
• Face-To-Face Counseling
o Individual Counseling
o Couple Counseling
o Group Counseling
• Technology-Assisted Distance Counseling
􀂃 Telecounseling
o Telephone-Based Individual Counseling
o Telephone-Based Couple Counseling
o Telephone-Based Group Counseling
􀂃 Internet Counseling
o E-Mail-Based Individual Counseling
o Chat-Based Individual Counseling
o Chat-Based Couple Counseling
o Chat-Based Group Counseling
o Video-Based Individual Counseling
o Video-Based Couple Counseling
o Video-Based Group Counseling
Definitions
Counseling is the application of mental health, psychological, or human development principles,
through cognitive, affective, behavioral or systemic intervention strategies, that address wellness,
personal growth, or career development, as well as pathology.
Face-to-face counseling for individuals, couples, and groups involves synchronous interaction
between and among counselors and clients using what is seen and heard in person to
communicate.
Technology-assisted distance counseling for individuals, couples, and groups involves the use of
the telephone or the computer to enable counselors and clients to communicate at a distance when
circumstances make this approach necessary or convenient.
Telecounseling involves synchronous distance interaction among counselors and clients using
one-to-one or conferencing features of the telephone to communicate.
Telephone-based individual counseling involves synchronous distance interaction between a
counselor and a client using what is heard via audio to communicate.
Telephone-based couple counseling involves synchronous distance interaction among a counselor
or counselors and a couple using what is heard via audio to communicate.
Telephone-based group counseling involves synchronous distance interaction among counselors
and clients using what is heard via audio to communicate.
Internet counseling involves asynchronous and synchronous distance interaction among
counselors and clients using e-mail, chat, and videoconferencing features of the Internet to
communicate.
E-mail-based individual Internet counseling involves asynchronous distance interaction between
counselor and client using what is read via text to communicate.
Chat-based individual Internet counseling involves synchronous distance interaction between
counselor and client using what is read via text to communicate.
Chat-based couple Internet counseling involves synchronous distance interaction among a
counselor or counselors and a couple using what is read via text to communicate.
Chat-based group Internet counseling involves synchronous distance interaction among
counselors and clients using what is read via text to communicate.
Video-based individual Internet counseling involves synchronous distance interaction between
counselor and client using what is seen and heard via video to communicate.
Video-based couple Internet counseling involves synchronous distance interaction among a
counselor or counselors and a couple using what is seen and heard via video to communicate.
Video-based group Internet counseling involves synchronous distance interaction among
counselors and clients using what is seen and heard via video to communicate.
Standards for the Ethical Practice of Internet Counseling
These standards govern the practice of Internet counseling and are intended for use by counselors,
clients, the public, counselor educators, and organizations that examine and deliver Internet
counseling. These standards are intended to address practices that are unique to Internet
counseling and Internet counselors and do not duplicate principles found in traditional codes of
ethics.
These Internet counseling standards of practice are based upon the principles of ethical practice
embodied in the NBCC Code of Ethics. Therefore, these standards should be used in conjunction
with the most recent version of the NBCC ethical code. Related content in the NBCC Code are
indicated in parentheses after each standard.
Recognizing that significant new technology emerges continuously, these standards should be
reviewed frequently. It is also recognized that Internet counseling ethics cases should be reviewed
in light of delivery systems existing at the moment rather than at the time the standards were
adopted.
In addition to following the NBCC® Code of Ethics pertaining to the practice of professional
counseling, Internet counselors shall observe the following standards of practice:
Internet Counseling Relationship
1. In situations where it is difficult to verify the identity of the Internet client, steps are
taken to address impostor concerns, such as by using code words or numbers.
2. Internet counselors determine if a client is a minor and therefore in need of
parental/guardian consent. When parent/guardian consent is required to provide Internet
counseling to minors, the identity of the consenting person is verified.
3. As part of the counseling orientation process, the Internet counselor explains to clients
the procedures for contacting the Internet counselor when he or she is off-line and, in the
case of asynchronous counseling, how often e-mail messages will be checked by the
Internet counselor.
4. As part of the counseling orientation process, the Internet counselor explains to clients
the possibility of technology failure and discusses alternative modes of communication, if
that failure occurs.
5. As part of the counseling orientation process, the Internet counselor explains to clients
how to cope with potential misunderstandings when visual cues do not exist.
6. As a part of the counseling orientation process, the Internet counselor collaborates with
the Internet client to identify an appropriately trained professional who can provide local
assistance, including crisis intervention, if needed. The Internet counselor and Internet
client should also collaborate to determine the local crisis hotline telephone number and
the local emergency telephone number.
7. The Internet counselor has an obligation, when appropriate, to make clients aware of free
public access points to the Internet within the community for accessing Internet
counseling or Web-based assessment, information, and instructional resources.
8. Within the limits of readily available technology, Internet counselors have an obligation
to make their Web site a barrier-free environment to clients with disabilities.
9. Internet counselors are aware that some clients may communicate in different languages,
live in different time zones, and have unique cultural perspectives. Internet counselors are
also aware that local conditions and events may impact the client.
Confidentiality in Internet Counseling
10. The Internet counselor informs Internet clients of encryption methods being used to help
insure the security of client/counselor/supervisor communications.
Encryption methods should be used whenever possible. If encryption is not made
available to clients, clients must be informed of the potential hazards of unsecured
communication on the Internet. Hazards may include unauthorized monitoring of
transmissions and/or records of Internet counseling sessions.
11. The Internet counselor informs Internet clients if, how, and how long session data are
being preserved.
Session data may include Internet counselor/Internet client e-mail, test results,
audio/video session recordings, session notes, and counselor/supervisor communications.
The likelihood of electronic sessions being preserved is greater because of the ease and
decreased costs involved in recording. Thus, its potential use in supervision, research, and
legal proceedings increases.
12. Internet counselors follow appropriate procedures regarding the release of information for
sharing Internet client information with other electronic sources.
Because of the relative ease with which e-mail messages can be forwarded to formal and
casual referral sources, Internet counselors must work to insure the confidentiality of the
Internet counseling relationship.
Legal Considerations, Licensure, and Certification
13. Internet counselors review pertinent legal and ethical codes for guidance on the practice
of Internet counseling and supervision.
Local, state, provincial, and national statutes as well as codes of professional membership
organizations, professional certifying bodies, and state or provincial licensing boards
need to be reviewed. Also, as varying state rules and opinions exist on questions
pertaining to whether Internet counseling takes place in the Internet counselor's location
or the Internet client's location, it is important to review codes in the counselor's home
jurisdiction as well as the client's. Internet counselors also consider carefully local
customs regarding age of consent and child abuse reporting, and liability insurance
policies need to be reviewed to determine if the practice of Internet counseling is a
covered activity.
14. The Internet counselor's Web site provides links to websites of all appropriate
certification bodies and licensure boards to facilitate consumer protection.